Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam
suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah
gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata
"Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.
Kata “Ugi” berasal dari nama raja pertama kerajaan cina yang terdapat di
pammana yang saat ini dikenal dengan kabupaten wajo yaitu La sattumpugi. Rakyat
atau pengikut la sattumpugi menaakan dirii mereka sebagai To Ugi atau pengikut
dari La sattumpugi.
Penciri
utama suku bugis ini adalah bahasa dan adat-istiadatnya, sehingga
pendatang Melayu dan Minangkabau yang
merantau ke Sulawesi sejak abad
ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah
terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Sensus penduduk
indonesia tahun 2010 menunjukan populasi orang bugis kurang lebih tujuh juta
jiwa yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Sulawesi,
Kalimantan, sumatera, dan jawa. Agama yang di anut oleh suku bugis adalah agama
islam. Kelompok etnik terdekat adalah toraja, mandar, dan makasar.
Dalam perkembangannya, komunitas
bugis berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat bugis kemudian
mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka
sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng,
Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Saat ini orang Bugis tersebar dalam
beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah
peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah
peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan
Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak
menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di
Pangkajene Kepulauan).
Suku bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi
harga diri dan martabat. Suku bugis sangat menghindari tindakan tindakan –
tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri dan martabat seseorang. Jika
seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga maka ia
akan di usir atau dibunuh. Namun adat tersebut sudah luntur di zaman sekarang.
Tidak ada lagi anggota kelarga yang tega membunuh anggota kelarganya hanya
karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hokum. Akan tetapi
adat malu masih di junjung oleh masyarakat bugis, walaupun tidak seketat dulu,
tapi setidaknya masih diingat dan di patuhi. Mata pencaharian masyarakat bugis
adalah petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang di minati adalah
pedagang. Karena masyarakat bugis tersebar di dataran rendah maka mayoritas
masyarakat bugis adalah bermatapencaharian sebagai petani maka masyarakat bugis
memiliki adat panen.
Adat panen
Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba
waktunya panen raya, Ada ada beberapa upacara yang dilakukan oleh suku bugis
yaitu upacara appalili yaitu upacara sebelum pembajakan tanah. Yang selanjutnya
adalah upacara Appatinro pare atau appabenni ase yaitu upacara sebelum bibit
padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di
possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk
menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai
dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang
padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang
biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah
dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan
appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda.
Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Gambar ritual mapadengdang
Gambar rumah adat suku bugis
Bagi komunitas Pakalu, ritual
mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan
sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia
berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk
dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi
Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.
Pernikahan yang kemudian dilanjutkan
dengan pesta perkawinan merupakan hal yang membahagiakan bagi semua orang
terutama bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Di Sulawesi Selatan
terdapat banyak adat perkawinan sesuai dengan suku dan kepercayaan masyarakat.
Bagi orang Bugis-Makassar, pernikahan/perkawinan diawali dengan proses melamar
atau “Assuro” (Makassar) dan “Madduta” (Bugis). Jika lamaran diterima,
dilanjutkan dengan proses membawa uang lamaran dari pihak pria yang akan
dipakai untuk acara pesta perkawinan oleh pihak wanita ini disebut dengan
“Mappenre dui” (bugis) atau “Appanai leko caddi” (Makassar). Pada saat
mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari baik untuk acara pesta
perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak. Sehari sebelum hari “H”
berlangsung acara “malam pacar” mappaci (bugis) atau “akkorontigi” (Makassar),
calon pengantin baik pria maupun wanita (biasanya sdh mengenakan pakaian adat
daerah masing-masing) duduk bersila menunggu keluarga atau kerabat lainnya
datang mengoleskan daun pacar ke tangan mereka sambil diiringi do’a-do’a untuk
kebahagiaan mereka. Keesokan harinya (Hari “H”), para kerabat datang untuk
membantu mempersiapkan acara pesta mulai dari lokasi, dekoasi, konsumsi,
transportasi dan hal-hal lainnya demi kelancaran acara. Pengantin pria
diberangkatkan dari rumahnya (Mappenre Botting = Bugis / Appanai leko lompo =
Makassar) diiringi oleh kerabat dalam pakaian pengantin lengkap dengan barang
seserahan ‘erang-erang’ menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di rumah
mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab
kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah
proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang
telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap
di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan
selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan
biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan organ tunggal atau kesenian
daerah lainnya. Keesokan harinya, sepasang pengantin selanjutnya diantar ke
rumah mempelai pria dengan iring-iringan yang tak kalah meriahnya. Selanjutnya,
rumah mempelai pria berlangsung acara yang sama, bahasa Bugis
disebut ‘mapparola’.




Top 5 best casino apps for Android and iOS - Dr. MD
BalasHapusBest 충청남도 출장안마 Casino Games in 2019 · Casino Bonuses 원주 출장마사지 · Winstar Social Casino. 파주 출장샵 · Blackjack Games Casino · 경기도 출장안마 Keno Slots Casino · Bingo 충청남도 출장안마 Casino · Slot Games.