Senin, 12 Januari 2015

Dharmawecana - Dana Punia Sebagai Penguat Rasa Kebersamaan dan Persaudaraan


Bapak dosen yang saya hormati
Dan rekan – rekan  mahasiswa yang saya banggakan
Sebelumnya saya sampaikan panganjali “ Om Swastyastu “
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa, karena atas asungkerta waranugrahanya kita masih diberi kesempatan berkumpul pada pagi hari ini dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa patah kata terkait dengan ”Dana Punia.
Rekan – rekan yang saya banggakan,. Tentunya kita sebagai umat beragama hindu  di bali sering kali  mendengarkan istilah dana punia. Dan kita semua  disini pasti pernah medana punia, baik itu di pura, di banjar, ataupun di tempat orang yang melakukan yadnya. Namun apa sebenarnya dana punia tersebut.  Dana punia merupakan Salah satu ajaran agama Hindu. Dana punia jika di lihan dari segi katanya terdiri dari dua buah kata yaitu “dana” dan “punia”. Dana berarti pemberian sedangkan punia berarti baik,suci. Sehingga dana punia mempunyai arti pemberian yang baik dan suci.

Bila kita menyadari saat kita memberi jari tangan kita mencakup membentuk satu kesatuan. Jari yang memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dapat kita artikan bahwa bila kita melakukan dana punia maka dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesama, mempererat tali persaudaraan. Sesuai dengan ajaran kita yang menyatakan bahwa kita semua adalah bersaudara “ vasudaiva kutumbhakam “. Hal ini menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini ( kaliyuga ), dimana toleransi antar sesama begitu minim, kebersamaan yg sangat kental pada masyarakat bali yang terdahulu, sekarang nyaris tidak dapat di lihat lagi, kebersamaan tersebut sekarang hanya dapat kita lihat pada kegiatan keberagamaan saja, tidak seperti dahulu dimana setiap kesempatan waktu di manfaatkan untuk kebersamaan, salah satu contohnya adalah ketika membangun rumah. Dahulu warga membangun rumah adalah dengan system nguwopin yaitu system atas kesadaran masing – masing individu untuk membantu kerabatnya yang sedang memiliki suatu kesibukan. Namun pada jaman sekarang kebersamaan tersebut tidak Nampak lagi dalam membangun rumah. Sekarang masyarakat cenderung menghandalkan buruh yang di bayar untuk membangun rumah. Hal ini di karenakan pula karena kesibukan masing – masing individu yang kian hari kian padat, jangankan buat kerabat waktu buat keluarga saja serasa sangat kurang karena kesibukan kita untuk mencari uang, karena seperti sekarang tanpa uang kita tidak bisa menyambung hidup.  
Rekan – rekan sekalian yang berbahagia, Mengapa memprioritaskan dana punia menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini, di dalam Parasaradharmasastra I.23 disebutkan :
“ tapah param kerta yuge
tretayam jnana mucyate
dvapare yajna waewahur
danamekam kalau yuge “
yang berarti :
Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga, pengetahuan tentang sang Diri (jnana) pada Tretayuga, pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dvaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga.
Dari sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk sekarang ini kebajikan yang perlu kita lakukan adalah dana punia. Swami wiwekananda membagi dana punia menjadi tiga macam yaitu dharma dana, vidya dana dan artha dana. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana), contohnya sebagai orang tua mengarahkan anaknya untuk teguh memegang dharma dalam segala tindakannya. berupa pendidikan / pengetahuan (Vidyadana) seperti seorang guru yang memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada murid-muridnya dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat misalnya memberi sedikit uang kepada peminta-minta.
Pemberian merupakan suatu hal yang mulia, mengapa demikian? didalam mahabharata ada seorang pemberi yang agung yaitu radheya putra kunti dan surya. Saat radheya selesai memuja matahari disiang hari datanglah Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana, Beliau berkata mohon berikanlah aku sedekah. Radheya menghormati brahmana dengan sujud dikakinya dan mempersilahkan duduk. Brahmana itu meminta kavaca dan kundala. Radheya menawarkan yang lainnya. Singkat cerita radhay tahu bahwa itu indra dan radheya memotong kavacanya dan melepas kundalanya serta meletakan dikaki brahmana (indra) saat itulah bunga-bunga ditaburkan dari langit. Dia dikenal sebagai karna karena telah memberi kundalannya dan vaikartana karena telah memotong kavacanya tanpa rasa sakit. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal yang mulia, terlebih memberikan sesuatu yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.
Rekan – rekan yang saya banggakan Lalu bagaimana berdana punia yang baik dan tepat? Bila kita kaitkan dengan tri guna atau tiga sifat yang melekat pada manusia, dana punia memiliki tiga kualitas, satvika, rajasika, dan tamasika. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagawadgita XVII.20,21,22, sebagai berikut :
Bhagawadgita XVII.20 dikatakan bahwa dana punia yang bersifat satvika adalah dana punia yang didasari rasa tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima , dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan (untuk pamer) dan uang yang diberikan didapat dengan jalan dharma. Contoh : memberikan uang kepada pengemis yang benar – benar membutuhkan dengan tulus ikhlas.
Bhagawadgita XVII.21 menyebutkan juga Rajasika merupakan kualitas kedua dari dana punia. Dana punia yang memiliki sifat rajasika mempunyai ciri-ciri : memberikan dana punia untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari / mengharapkan hasilnya, hanya untuk pamer, ada perasaan kesal saat memberikannya. Contoh : memberikan dana punia ke pura paling besar, supaya orang – orang yang lainnya kagum.
Bhagawadgita XVII.22 menyebutkan, kualitas yang ke tiga dari dana punia yaitu kualitas tamasika, yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : tidak mempunyai landasan sastranya (tanpa keyakinan / tidak mengetahui aturanya / asal – asalan ), uang yang didapat dari perbuatan adharma, tanpa adanya rasa hormat atau dengan penghinaan. Contoh : memberikan sedekah kepada pengemis dengan melemparnya ketanah, dan sangat kecil tidak sebanding dengan penghasilannya.
Dari uraian ini berdana punia yang baik dan tepat adalah yang bersifat satvika, dilakukan dengan tulus ikhlas dan diberikan kepada orang yang tepat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dana punia penting kita galakan dizaman sekarang ini, dimana ego lebih dominan dibanding toleransi. Dana punia tidak harus berwujud materi (arthadana) bisa juga dengan nasehat (dharmadana) dan juga pendidikan (vidyadana). Yang terpenting dilakukan dengan tulus ikhlas sehingga dapat memupuk tali persaudaraan antar sesama dan kebersamaan dapat tercapai.
Oleh karena itu kita sebagai umat hindu yang mempunyai dan mengerti tentang ajaran ini, marilah meningkatkan rasa persaudaraan kita dengan melakukan dana punia. Dengan harapan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan toleransi antar sesama. Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih ” Om Santih Santih Santih Om”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar