Rabu, 14 Januari 2015

Antropologi Budaya - Suku Bugis

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Kata “Ugi” berasal dari nama raja pertama kerajaan cina yang terdapat di pammana yang saat ini dikenal dengan kabupaten wajo yaitu La sattumpugi. Rakyat atau pengikut la sattumpugi menaakan dirii mereka sebagai To Ugi atau pengikut dari La sattumpugi.
Penciri utama suku bugis ini adalah bahasa dan adat-istiadatnya, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Sensus penduduk indonesia tahun 2010 menunjukan populasi orang bugis kurang lebih tujuh juta jiwa yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Sulawesi, Kalimantan, sumatera, dan jawa. Agama yang di anut oleh suku bugis adalah agama islam. Kelompok etnik terdekat adalah toraja, mandar, dan makasar.

Dalam perkembangannya, komunitas bugis berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat bugis kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).

Adat istiadat suku bugis
 
Pakaian adat suku bugis
Suku bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku bugis sangat menghindari tindakan tindakan – tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri dan martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga maka ia akan di usir atau dibunuh. Namun adat tersebut sudah luntur di zaman sekarang. Tidak ada lagi anggota kelarga yang tega membunuh anggota kelarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hokum. Akan tetapi adat malu masih di junjung oleh masyarakat bugis, walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan di patuhi. Mata pencaharian masyarakat bugis adalah petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang di minati adalah pedagang. Karena masyarakat bugis tersebar di dataran rendah maka mayoritas masyarakat bugis adalah bermatapencaharian sebagai petani maka masyarakat bugis memiliki adat panen.

Adat panen
            Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya, Ada ada beberapa upacara yang dilakukan oleh suku bugis yaitu upacara appalili yaitu upacara sebelum pembajakan tanah. Yang selanjutnya adalah upacara Appatinro pare atau appabenni ase yaitu upacara sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.
Gambar ritual mapadengdang

    Gambar rumah adat suku bugis
Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.


Adat pernikahan
Gambar pernikahan suku bugis

Pernikahan yang kemudian dilanjutkan dengan pesta perkawinan merupakan hal yang membahagiakan bagi semua orang terutama bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Di Sulawesi Selatan terdapat banyak adat perkawinan sesuai dengan suku dan kepercayaan masyarakat. Bagi orang Bugis-Makassar, pernikahan/perkawinan diawali dengan proses melamar atau “Assuro” (Makassar) dan “Madduta” (Bugis). Jika lamaran diterima, dilanjutkan dengan proses membawa uang lamaran dari pihak pria yang akan dipakai untuk acara pesta perkawinan oleh pihak wanita ini disebut dengan “Mappenre dui” (bugis) atau “Appanai leko caddi” (Makassar). Pada saat mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari baik untuk acara pesta perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak. Sehari sebelum hari “H” berlangsung acara “malam pacar” mappaci (bugis) atau “akkorontigi” (Makassar), calon pengantin baik pria maupun wanita (biasanya sdh mengenakan pakaian adat daerah masing-masing) duduk bersila menunggu keluarga atau kerabat lainnya datang mengoleskan daun pacar ke tangan mereka sambil diiringi do’a-do’a untuk kebahagiaan mereka. Keesokan harinya (Hari “H”), para kerabat datang untuk membantu mempersiapkan acara pesta mulai dari lokasi, dekoasi, konsumsi, transportasi dan hal-hal lainnya demi kelancaran acara. Pengantin pria diberangkatkan dari rumahnya (Mappenre Botting = Bugis / Appanai leko lompo = Makassar) diiringi oleh kerabat dalam pakaian pengantin lengkap dengan barang seserahan ‘erang-erang’ menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di rumah mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan organ tunggal atau kesenian daerah lainnya. Keesokan harinya, sepasang pengantin selanjutnya diantar ke rumah mempelai pria dengan iring-iringan yang tak kalah meriahnya. Selanjutnya, rumah mempelai pria berlangsung acara yang samabahasa Bugis disebut ‘mapparola’.


1 komentar:

  1. Top 5 best casino apps for Android and iOS - Dr. MD
    Best 충청남도 출장안마 Casino Games in 2019 · Casino Bonuses 원주 출장마사지 · Winstar Social Casino. 파주 출장샵 · Blackjack Games Casino · 경기도 출장안마 Keno Slots Casino · Bingo 충청남도 출장안마 Casino · Slot Games.

    BalasHapus