Bapak dosen yang saya hormati
Dan rekan – rekan mahasiswa yang saya banggakan
Sebelumnya saya sampaikan panganjali
“ Om Swastyastu “
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang
Widi Wasa, karena atas asungkerta waranugrahanya kita masih diberi kesempatan
berkumpul pada pagi hari ini dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu
apapun. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa patah kata terkait
dengan ”Dana Punia.
Rekan – rekan yang saya banggakan,. Tentunya kita sebagai
umat beragama hindu di bali sering kali mendengarkan istilah dana punia. Dan kita
semua disini pasti pernah medana punia,
baik itu di pura, di banjar, ataupun di tempat orang yang melakukan yadnya.
Namun apa sebenarnya dana punia tersebut.
Dana punia merupakan Salah satu ajaran agama Hindu. Dana punia jika di
lihan dari segi katanya terdiri dari dua buah kata yaitu “dana” dan “punia”.
Dana berarti pemberian sedangkan punia berarti baik,suci. Sehingga dana punia
mempunyai arti pemberian yang baik dan suci.
Bila kita menyadari saat kita memberi jari tangan kita
mencakup membentuk satu kesatuan. Jari yang memiliki karakteristik yang
berbeda. Hal ini dapat kita artikan bahwa bila kita melakukan dana punia maka
dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesama, mempererat tali
persaudaraan. Sesuai dengan ajaran kita yang menyatakan bahwa kita semua adalah
bersaudara “ vasudaiva kutumbhakam “. Hal ini menjadi penting kita lakukan di
zaman sekarang ini ( kaliyuga ), dimana toleransi antar sesama begitu minim, kebersamaan
yg sangat kental pada masyarakat bali yang terdahulu, sekarang nyaris tidak
dapat di lihat lagi, kebersamaan tersebut sekarang hanya dapat kita lihat pada
kegiatan keberagamaan saja, tidak seperti dahulu dimana setiap kesempatan waktu
di manfaatkan untuk kebersamaan, salah satu contohnya adalah ketika membangun
rumah. Dahulu warga membangun rumah adalah dengan system nguwopin yaitu system
atas kesadaran masing – masing individu untuk membantu kerabatnya yang sedang
memiliki suatu kesibukan. Namun pada jaman sekarang kebersamaan tersebut tidak
Nampak lagi dalam membangun rumah. Sekarang masyarakat cenderung menghandalkan
buruh yang di bayar untuk membangun rumah. Hal ini di karenakan pula karena
kesibukan masing – masing individu yang kian hari kian padat, jangankan buat
kerabat waktu buat keluarga saja serasa sangat kurang karena kesibukan kita
untuk mencari uang, karena seperti sekarang tanpa uang kita tidak bisa menyambung
hidup.
Rekan – rekan sekalian yang berbahagia, Mengapa
memprioritaskan dana punia menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini,
di dalam Parasaradharmasastra I.23 disebutkan :
“
tapah param kerta yuge
tretayam
jnana mucyate
dvapare
yajna waewahur
danamekam
kalau yuge “
yang
berarti :
Pelaksanaan
penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga,
pengetahuan tentang sang Diri (jnana) pada Tretayuga, pelaksanaan upacara
kurban keagamaan (yajna) pada masa Dvaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah
(danam) pada masa Kaliyuga.
Dari sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk sekarang
ini kebajikan yang perlu kita lakukan adalah dana punia. Swami wiwekananda
membagi dana punia menjadi tiga macam yaitu dharma dana, vidya dana dan artha
dana. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup,
yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana),
contohnya sebagai orang tua mengarahkan anaknya untuk teguh memegang dharma
dalam segala tindakannya. berupa pendidikan / pengetahuan (Vidyadana) seperti
seorang guru yang memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada murid-muridnya
dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau
menyelamatkan seseorang atau masyarakat misalnya memberi sedikit uang kepada
peminta-minta.
Pemberian merupakan suatu hal yang mulia, mengapa demikian?
didalam mahabharata ada seorang pemberi yang agung yaitu radheya putra kunti
dan surya. Saat radheya selesai memuja matahari disiang hari datanglah Indra yang
menyamar sebagai seorang brahmana, Beliau berkata mohon berikanlah aku sedekah.
Radheya menghormati brahmana dengan sujud dikakinya dan mempersilahkan duduk.
Brahmana itu meminta kavaca dan kundala. Radheya menawarkan yang lainnya.
Singkat cerita radhay tahu bahwa itu indra dan radheya memotong kavacanya dan
melepas kundalanya serta meletakan dikaki brahmana (indra) saat itulah
bunga-bunga ditaburkan dari langit. Dia dikenal sebagai karna karena telah
memberi kundalannya dan vaikartana karena telah memotong kavacanya tanpa rasa
sakit. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal yang mulia,
terlebih memberikan sesuatu yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.
Rekan – rekan yang saya banggakan Lalu bagaimana berdana
punia yang baik dan tepat? Bila kita kaitkan dengan tri guna atau tiga sifat
yang melekat pada manusia, dana punia memiliki tiga kualitas, satvika,
rajasika, dan tamasika. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagawadgita
XVII.20,21,22, sebagai berikut :
Bhagawadgita
XVII.20 dikatakan bahwa dana punia yang bersifat satvika adalah dana punia yang
didasari rasa tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima , dengan cara
yang baik, sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan (untuk pamer) dan uang
yang diberikan didapat dengan jalan dharma. Contoh : memberikan uang kepada
pengemis yang benar – benar membutuhkan dengan tulus ikhlas.
Bhagawadgita XVII.21 menyebutkan juga Rajasika merupakan
kualitas kedua dari dana punia. Dana punia yang memiliki sifat rajasika
mempunyai ciri-ciri : memberikan dana punia untuk memperoleh keuntungan di
kemudian hari / mengharapkan hasilnya, hanya untuk pamer, ada perasaan kesal
saat memberikannya. Contoh : memberikan dana punia ke pura paling besar, supaya
orang – orang yang lainnya kagum.
Bhagawadgita XVII.22 menyebutkan, kualitas yang ke tiga dari
dana punia yaitu kualitas tamasika, yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut
: tidak mempunyai landasan sastranya (tanpa keyakinan / tidak mengetahui
aturanya / asal – asalan ), uang yang didapat dari perbuatan adharma, tanpa
adanya rasa hormat atau dengan penghinaan. Contoh : memberikan sedekah kepada
pengemis dengan melemparnya ketanah, dan sangat kecil tidak sebanding dengan
penghasilannya.
Dari uraian ini berdana punia yang baik dan tepat adalah
yang bersifat satvika, dilakukan dengan tulus ikhlas dan diberikan kepada orang
yang tepat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dana punia penting kita
galakan dizaman sekarang ini, dimana ego lebih dominan dibanding toleransi.
Dana punia tidak harus berwujud materi (arthadana) bisa juga dengan nasehat
(dharmadana) dan juga pendidikan (vidyadana). Yang terpenting dilakukan dengan
tulus ikhlas sehingga dapat memupuk tali persaudaraan antar sesama dan
kebersamaan dapat tercapai.
Oleh karena itu kita sebagai umat hindu yang mempunyai dan
mengerti tentang ajaran ini, marilah meningkatkan rasa persaudaraan kita dengan
melakukan dana punia. Dengan harapan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan
toleransi antar sesama. Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat saya
sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya tutup dengan
paramasantih ” Om Santih Santih Santih Om”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar